Kita
melihat jam tangan, pukul 17.00. udara mulai terasa dingin. Kita buru-buru
memasang tenda, setelah tenda sudah dibangun, kita sempatkan buat foto-foto
dulu. Udah puas, kita langsungg masak menu makan malam.

Menu saat itu, ikan asin tumis kacang panjang, plus petis madura. Untung chef gorak jago masak ala-ala outdoor. Wangi khas petis sangat menyengat bikin hidung dimanjain. Saat kita hendak mulai makan, kami merasa ada yang janggal. Sensor indra kami berdua sama-sama menangkap ada binatang dibelakang dan samping tenda kami. Mungkin tertarik karena aroma petis kita yang menyebarkan aroma amis yang kuat.
Pas
gw tengok belakang... eng ing eng...!
Permukaan
tenda bergerak-gerak. Ada yang menekan-nekan permukaan tenda sehingga terlihat
jelas menonjol-nonjol kedalam. Bentuknya seperti moncong binatang yg cukup
besar, di sebelah kiri dan belakang tenda.
Ah
sabodo teuing, kita laper. Kita lanjut makan aja, gapeduli binatang apa yg
sebenernya lagi mampir ke tenda kita.
Selesai
makan kita pun langsung cuss lanjut tidur. By the way, tenda kita masih
diendus-endus binatang yang ngga jelas itu. Tapi daripada pusing mikirin itu,
kita putusin buat langsung tidur aja.
Ternyata
naik gunung cuma berdua punya sedikit masalah. Apalagi kalo ternyata bawa tenda
yang ukurannya lebih luas seperti ukuran 4 orang atau lebih. Yap, betul ! kita
kedinginan parah. Jam masih menunjukkan pukul 9 malam, dinginnya udah menusuk
sumsum tulang. Gw ambil inisiatif aja, ambil kompor terus nyalain apinya.
Lumayan, buat angetin tangan. Ternyata Gorak sama-sama gabisa tidur, jadinya
ikutan angetin tangan diatas kompor. Mumpung kompornya masih nyala, akhirnya
masak air panas dan nyeduh kopi. Ujung-ujungnya ngopi lagi, setidaknya sampe
badan mendukung buat tidur.
Besok
paginya, kita nikmatin sunrise dari pos watu gede dulu, baru kemudian sarapan
dulu. Selesai sarapan, langsung beres-beres packing tenda, dsb. Ngga lama
kemudian, muncul rombongan pendaki datang, baru aja turun dari welirang. Jumlah
pendaki di rombongan mereka lumayan banyak, asal dari malang. Tanpa
berlama-lama, mereka bergegas turun.
Sekarang
kita mulai lanjut perjalanan. Ternyata selang satu jam perjalanan dari tempat
kita camp, ada pos berupa pertigaan antara jalur menuju Welirang dengan Arjuno.
Tempat ini terlihat lebih luas, lebih datar dan letaknya lebih terlindungi
(kayaknya sih) Yasudahlah, namanya juga Cuma berdua, sama-sama ngga kenal medan
pula.
Disini
kita sempetin buat recording bikin video singkat dokumentasi perjalanan.
Sekedar mengabadikan momen, begitu selesai kita langsung cuss jalan lagi.
Dari
pertigaan ini, jalur menuju celah antara gunung kembar 1 & 2 lumayan
menanjak. Jalur juga terkadang tertutup ilalang tinggi. Lumayan buat bikin
orang nyasar sih.
Diperjalanan
kadang kita ketemu lubang-lubang yang mengeluarkan uap panas. Asli, panasnya
poll !
Gw
iseng naroh muka diatas, ternyata berhasil bikin mata pedih dalam 3 detik.
Berhubung lubang itu berhasil bikin gw kapok buat iseng lagi, kita lanjutin aja
perjalanan tanpa menghiraukan lubang-lubang tersebut. Setelah 2 jam perjalanan,
kita udah sampe di lembah pemisah gunung kembar 1 & 2. Disini kita ketemu
pendaki lagi, kali ini gw ketemu sama orang dari Malang dan Tangerang. Mereka sedang dalam perjalanan turun, lewat
jalur jurang kwali juga.
Lembah
ini memang penuh eksotisme, tapi sekaligus banyak bahaya tersembunyi yang
diam-diam mengancam. Namanya angin lembah. Rasanya sejuk, bikin adem. Tapi
dibalik rasa adem itu ternyata menimbulkan masalah baru, yaitu badan jadi malas
bergerak, badan terasa lemas, kuping jadi berdengung dan nafas jadi terbatas.
Nah
di lokasi ini nih, rasa sok taunya kita tiba-tiba muncul menggelitik pikiran.
“ah
ini, kalo kita bisa nanjak gunung yang itu (nunjuk gunung kembar 2) kita bisa
langsung sampe di gunung arjuno ya ?”
Langsung
saja kita berdua mulai jalan menuju puncak gunung kembar 2 tersebut. Saat itu,
angin lembah lagi giat-giatnya menyerang. Entah kenapa, tiap angin itu
berhembus mengenai badan, tiba-tiba badan terasa kehilangan tenaga, alias
lemas. Buat jaga-jaga aja setiap angin lembah berhembus kencang, gw putuskan
buat berhenti sejenak. Namun ternyata ngga bagus juga kalo tiap ada angin
lembah harus berhenti, soalnya angin nya dateng terus dan bikin down gw.
Alhasil, jarak dari gw ke Gorak jauuuuh banget. Dia nyampe di puncak 30 menit
lebih cepat dari gw. Mungkin bisa dibilang 30 menit di gunung bisa habis 3
batang rokok.
Sesampainya
di puncak gunung tersebut, kita nemu batu monumen peringatan, in memoriam. Gw
udah lupa siapa namanya, tapi gw cukup kaget pas tau ternyata nama almarhum
orang yang tertulis di batu tersebut ternyata kurang lebih meninggal disitu
satu tahun yang lalu, tepat dimana kita berdiri. Disitu tertulis nama sebuah
instansi pecinta alam dari Surabaya.
Gw
putuskan untuk duduk istirahat, karena angin meniup sangat kencang menyerang
kami. Dari sini terlihat sangat jelas puncak gunung kembar 1 dan gunung
welirang yang lagi mengepulkan asapnya. Kemudian kita mencoba lanjut jalan,
sesuai rencana : gunung arjuno. Di gunung kembar 2 ada bekas lembah cekung
bekas kawah letusan yang cukup besar. Dilihat dari bentuknya, kira-kira gunung
ini sudah pernah meletus, ratusan tahun lalu. Hijaunya rumput dan batu-batuan
mungkin bisa mengalihkan pandangan, tapi dari bentuk lembah cekungan nya gabisa
menyembunyikan fakta bahwa gunung kembar 2 ini pernah meletus.
Dari
sisi selatan puncak gunung kembar 2 ini dapat terlihat jelas puncak ogal-agil
gunung arjuno, asli puncak nya kelihatan megah banget dari puncak gunung kembar
2. Sayang banget kita ngga mengabadikan foto gunung arjuno dari puncak gunung kembar
2, keren bangeet !
Terus
kita coba cari jalan buat ke gunung arjuno. 15 menit cari, ngga ada. Gorak coba
lihat lagi dari ujung ke ujung. Alamak ngga ada. Semuanya terjal. Aih, gokil
juga, pikir gw. Diliat dari keterjalan nya, bisa aja kita lewatin, potong
kompas. Tapi yang jelas kita bakalan ngga mungkin ngga terluka. Minimal
lecet-lecet dan setelahnya keseleo. Diliat dari atas sini ngga ada yang
terlihat seperti jalur setapak. Berhubung gw juga mengejar waktu buat pulang ke
Jakarta, kita putuskan batal mendaki ke gunung arjuno. Next time aja ya, bro.
Komentar
Posting Komentar