Langsung ke konten utama

Pendakian Gunung Kembar (Part 2)


Kita melihat jam tangan, pukul 17.00. udara mulai terasa dingin. Kita buru-buru memasang tenda, setelah tenda sudah dibangun, kita sempatkan buat foto-foto dulu. Udah puas, kita langsungg masak menu makan malam.


















Menu saat itu, ikan asin tumis kacang panjang, plus petis madura. Untung chef gorak jago masak ala-ala outdoor. Wangi khas petis sangat menyengat bikin hidung dimanjain. Saat kita hendak mulai makan, kami merasa ada yang janggal. Sensor indra kami berdua sama-sama menangkap ada binatang dibelakang dan samping tenda kami. Mungkin tertarik karena aroma petis kita yang menyebarkan aroma amis yang kuat.

Pas gw tengok belakang... eng ing eng...!

Permukaan tenda bergerak-gerak. Ada yang menekan-nekan permukaan tenda sehingga terlihat jelas menonjol-nonjol kedalam. Bentuknya seperti moncong binatang yg cukup besar, di sebelah kiri dan belakang tenda.

Ah sabodo teuing, kita laper. Kita lanjut makan aja, gapeduli binatang apa yg sebenernya lagi mampir ke tenda kita.

Selesai makan kita pun langsung cuss lanjut tidur. By the way, tenda kita masih diendus-endus binatang yang ngga jelas itu. Tapi daripada pusing mikirin itu, kita putusin buat langsung tidur aja.

Ternyata naik gunung cuma berdua punya sedikit masalah. Apalagi kalo ternyata bawa tenda yang ukurannya lebih luas seperti ukuran 4 orang atau lebih. Yap, betul ! kita kedinginan parah. Jam masih menunjukkan pukul 9 malam, dinginnya udah menusuk sumsum tulang. Gw ambil inisiatif aja, ambil kompor terus nyalain apinya. Lumayan, buat angetin tangan. Ternyata Gorak sama-sama gabisa tidur, jadinya ikutan angetin tangan diatas kompor. Mumpung kompornya masih nyala, akhirnya masak air panas dan nyeduh kopi. Ujung-ujungnya ngopi lagi, setidaknya sampe badan mendukung buat tidur.

Besok paginya, kita nikmatin sunrise dari pos watu gede dulu, baru kemudian sarapan dulu. Selesai sarapan, langsung beres-beres packing tenda, dsb. Ngga lama kemudian, muncul rombongan pendaki datang, baru aja turun dari welirang. Jumlah pendaki di rombongan mereka lumayan banyak, asal dari malang. Tanpa berlama-lama, mereka bergegas turun.

Sekarang kita mulai lanjut perjalanan. Ternyata selang satu jam perjalanan dari tempat kita camp, ada pos berupa pertigaan antara jalur menuju Welirang dengan Arjuno. Tempat ini terlihat lebih luas, lebih datar dan letaknya lebih terlindungi (kayaknya sih) Yasudahlah, namanya juga Cuma berdua, sama-sama ngga kenal medan pula.

Disini kita sempetin buat recording bikin video singkat dokumentasi perjalanan. Sekedar mengabadikan momen, begitu selesai kita langsung cuss jalan lagi.

Dari pertigaan ini, jalur menuju celah antara gunung kembar 1 & 2 lumayan menanjak. Jalur juga terkadang tertutup ilalang tinggi. Lumayan buat bikin orang nyasar sih.






















Diperjalanan kadang kita ketemu lubang-lubang yang mengeluarkan uap panas. Asli, panasnya poll !
Gw iseng naroh muka diatas, ternyata berhasil bikin mata pedih dalam 3 detik. Berhubung lubang itu berhasil bikin gw kapok buat iseng lagi, kita lanjutin aja perjalanan tanpa menghiraukan lubang-lubang tersebut. Setelah 2 jam perjalanan, kita udah sampe di lembah pemisah gunung kembar 1 & 2. Disini kita ketemu pendaki lagi, kali ini gw ketemu sama orang dari Malang dan Tangerang.  Mereka sedang dalam perjalanan turun, lewat jalur jurang kwali juga.























Lembah ini memang penuh eksotisme, tapi sekaligus banyak bahaya tersembunyi yang diam-diam mengancam. Namanya angin lembah. Rasanya sejuk, bikin adem. Tapi dibalik rasa adem itu ternyata menimbulkan masalah baru, yaitu badan jadi malas bergerak, badan terasa lemas, kuping jadi berdengung dan nafas jadi terbatas.

Nah di lokasi ini nih, rasa sok taunya kita tiba-tiba muncul menggelitik pikiran.
“ah ini, kalo kita bisa nanjak gunung yang itu (nunjuk gunung kembar 2) kita bisa langsung sampe di gunung arjuno ya ?”

Langsung saja kita berdua mulai jalan menuju puncak gunung kembar 2 tersebut. Saat itu, angin lembah lagi giat-giatnya menyerang. Entah kenapa, tiap angin itu berhembus mengenai badan, tiba-tiba badan terasa kehilangan tenaga, alias lemas. Buat jaga-jaga aja setiap angin lembah berhembus kencang, gw putuskan buat berhenti sejenak. Namun ternyata ngga bagus juga kalo tiap ada angin lembah harus berhenti, soalnya angin nya dateng terus dan bikin down gw. Alhasil, jarak dari gw ke Gorak jauuuuh banget. Dia nyampe di puncak 30 menit lebih cepat dari gw. Mungkin bisa dibilang 30 menit di gunung bisa habis 3 batang rokok.

Sesampainya di puncak gunung tersebut, kita nemu batu monumen peringatan, in memoriam. Gw udah lupa siapa namanya, tapi gw cukup kaget pas tau ternyata nama almarhum orang yang tertulis di batu tersebut ternyata kurang lebih meninggal disitu satu tahun yang lalu, tepat dimana kita berdiri. Disitu tertulis nama sebuah instansi pecinta alam dari Surabaya.



















Gw putuskan untuk duduk istirahat, karena angin meniup sangat kencang menyerang kami. Dari sini terlihat sangat jelas puncak gunung kembar 1 dan gunung welirang yang lagi mengepulkan asapnya. Kemudian kita mencoba lanjut jalan, sesuai rencana : gunung arjuno. Di gunung kembar 2 ada bekas lembah cekung bekas kawah letusan yang cukup besar. Dilihat dari bentuknya, kira-kira gunung ini sudah pernah meletus, ratusan tahun lalu. Hijaunya rumput dan batu-batuan mungkin bisa mengalihkan pandangan, tapi dari bentuk lembah cekungan nya gabisa menyembunyikan fakta bahwa gunung kembar 2 ini pernah meletus.

Dari sisi selatan puncak gunung kembar 2 ini dapat terlihat jelas puncak ogal-agil gunung arjuno, asli puncak nya kelihatan megah banget dari puncak gunung kembar 2. Sayang banget kita ngga mengabadikan foto gunung arjuno dari puncak gunung kembar 2, keren bangeet !

Terus kita coba cari jalan buat ke gunung arjuno. 15 menit cari, ngga ada. Gorak coba lihat lagi dari ujung ke ujung. Alamak ngga ada. Semuanya terjal. Aih, gokil juga, pikir gw. Diliat dari keterjalan nya, bisa aja kita lewatin, potong kompas. Tapi yang jelas kita bakalan ngga mungkin ngga terluka. Minimal lecet-lecet dan setelahnya keseleo. Diliat dari atas sini ngga ada yang terlihat seperti jalur setapak. Berhubung gw juga mengejar waktu buat pulang ke Jakarta, kita putuskan batal mendaki ke gunung arjuno. Next time aja ya, bro.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Pendakian Gunung Salak Via Giri Jaya (Part 1)

  foto dilansir dari situs korankite.com Siapa sih pendaki gunung yang ngga kenal gunung salak ? gunung dengan ketinggian 2211 meter diatas permukaan laut, tipe strato vulkanik, tipe hutan hujan tropis, ada kawah ratu yang masih aktif mengeluarkan gas belerang, plus segudang cerita mistis tentang gunung salak. 24 Januari, 2015 gw bersama partner pendakian tergokil, master gipson a.k.a gorak dari pecinta alam PALAPA FMIPA Universitas Negeri Jember. 22 januari, gw lagi mengantarkan dia buat menyebarkan undangan latihan gabungan konservasi se-jawa bali di taman nasional baluran, jawa timur ke organisasi-organisasi pecinta alam di sekitar jakarta. Sepulang dari mengantar undangan ke mapala Atmajaya, Wanacala, tanggal 23, sebagai balas budi (walaupun separuhnya emang keinginan pribadi) karena udah nganterin gw naik gunung Raung, gw mengajak dia naik ke gunung salak besok harinya. Berhubung selama ini gw pergi ke salak cuma kenal jalur giri jaya, maka pendakian kali ini jug...

Pendakian Gunung Kembar (Part 3)

Sekarang kita udah tersesat arah tujuan. Ngga tau lagi mau kemana. Buat sekedar mencari ketenangan aja, kita foto-foto lagi. Kebetulan ada pemandangan langka, samudera awan. Asli ini tjakeeep banget ! Kita foto-foto dulu, baru tiba-tiba kita nemu ide. Kita ke welirang. Dari puncak gunung kembar 2 terlihat gunung kembar 1 dan gunung welirang menyambung. Atau setidaknya begitulah yang terlihat dari sini. Kita turun lagi, menuju lembah antara gunung kembar 1 dan 2. Ternyata turun nya lumayan serem. Karena ngga ada yang bisa dijadikan pegangan, pohon-pohon renggang plus pijakan yang berupa tanah berpasir kerikil bikin kita wajib waspada berjalan. Sampai dibawah kita langsung cuss lanjut lagi mendaki puncak gunung kembar 1. Ternyata buat trek yang satu ini 3x lebih curam. Rasanya jadi seperti mendaki gunung-gunung di jawa barat, dengkul ketemu dagu. Banyak juga ranting-ranting lumayan besar jatuh di jalur, menghalangi pandangan. Dari punggungan gw terpisah jauuh ban...

Pendakian Gunung Salak Via Giri Jaya (Part 2)

( lanjutan dari part 1 ) Ngga lama kemudian muncul beberapa orang dari jalur punggungan sebelah, tiga orang, yang kemudian kita kenal berasal dari mapala dari Universitas Djuanda. Mereka bertiga orang-orang asli bogor, dengan logat sunda nya yang kental. Rupanya mereka sedang mencari lokasi untuk keperluan diklat mapala mereka. Mereka membawa sejumlah tali rafia yang udah digunting pendek kurang lebih 4-5 centimeter untuk dipakai menjadi string line. Malam itu, mereka menawarkan makan bareng dengan logistik yang mereka bawa. Mungkin karena melihat menu makanan kami yang sedikit ekstrim, mereka kasihan pada kami dan langsung menawarkan diri, ha ha ha ... Setidaknya, menu sayur mayur menjadi vitamin bagi tubuh kita yang kelelahan. Ditemani lauk seperti tahu dan tempe sudah cukup mengenyangkan bagi kami. Selesai makan kita ngopi2 bareng ditemani tembakau kretek sekedar untuk menghangatkan badan. Mulai dari trek jalur pendakian, cita-cita Soekarno sampa...