( lanjutan dari part 1 )
Ngga
lama kemudian muncul beberapa orang dari jalur punggungan sebelah, tiga orang,
yang kemudian kita kenal berasal dari mapala dari Universitas Djuanda.
Mereka
bertiga orang-orang asli bogor, dengan logat sunda nya yang kental.
Rupanya
mereka sedang mencari lokasi untuk keperluan diklat mapala mereka. Mereka
membawa sejumlah tali rafia yang udah digunting pendek kurang lebih 4-5
centimeter untuk dipakai menjadi string line.
Malam
itu, mereka menawarkan makan bareng dengan logistik yang mereka bawa. Mungkin
karena melihat menu makanan kami yang sedikit ekstrim, mereka kasihan pada kami
dan langsung menawarkan diri, ha ha ha ...
Setidaknya,
menu sayur mayur menjadi vitamin bagi tubuh kita yang kelelahan. Ditemani lauk
seperti tahu dan tempe sudah cukup mengenyangkan bagi kami. Selesai makan kita
ngopi2 bareng ditemani tembakau kretek sekedar untuk menghangatkan badan. Mulai
dari trek jalur pendakian, cita-cita Soekarno sampai puisi cinta kita bahas
tanpa tuntas disini. Sampai obrolan malam berlanjut saat kita merasa ‘ganteng’ buat
lanjut tidur.
Bangun
pagi di puncak tugu, kita mendapatkan view dengan jelas berupa sunrise dari
arah gunung gede-pangrango. Yang gw suka dari puncak tugu ini adalah, gw bisa melihat
view dari sini tanpa harus ke puncak manik gunung salak. Ditambah disini
terdapat saung untuk para pendaki bisa menginap, ditambah ada tempat kita bisa
mengambil air untuk minum juga disini, walaupun hanya pada saat penghujan.
Pagi
ini, lagi-lagi kita sarapan menumpang pada dulur mapala dari Djuanda.
foto penampakan sunrise di puncak tugu / pertapaan eyang santri

foto penampakan sunrise di puncak tugu / pertapaan eyang santri
Melihat
matahari yang udah mulai tampak tinggi, selesai sarapan kita langsung saja
packing kembali untuk melanjutkan perjalanan sampai ke puncak.
Kawan2
dari mapala Djuanda ini meminta tolong kepada kami buat memasangkan string line
mereka mulai dari sini menuju puncak manik gunung salak. Ternyata mereka
berencana untuk turun kembali dan tidak melanjutkan perjalanan ke puncak manik,
mungkin karena kami udah menyita logistik mereka yang seharusnya buat hari
esok, akhirnya mereka putuskan untuk turun.
Permintaan
memasang string line itu kami terima dengan senang hati. Soalnya kita juga ngga
bawa string line buat berjaga-jaga seandainya kita nyasar di hutan. Selesai
berpamitan, kita langsung jalan kembali menuju puncak manik. Trek menuju puncak
manik ada di belakang bangunan makam eyang santri.
Perjalanan
kembali menanjak. Trek di didominasi oleh akar-akar pohon dan sedikit melipir
pinggiran jurang hutan. Ngga lupa kita juga memasang string line di sepanjang jalur
buat penanda jalan. Semakin menanjak, kita akan menemui batu-batu besar dan
licin sebagai pijakan dan pegangan saat mendaki. Perlu hati-hati saat memanjat
batu-batu besar ini, karena trek pendakian sangat terjal, bahkan hampir
mencapai 80 derajat.
Gorak
beberapa kali menyempatkan untuk merekam video selama perjalanan trek menuju
puncak. Trek semakin menanjak dengan kombinasi medan tanah licin bercampur
dengan bebatuan licin dengan akar-akar pohon sebagai trek alternatif di sebelah
trek. Kurang lebih setelah berjalan hampir 3 jam, kita sampai di pertigaan yang
menghubungkan jalur dari giri jaya dengan jalur dari Taman Nasional Gunung
Halimun Salak. Pertigaan itu berada kurang lebih dekat dengan pal HM 46, yang
menunjukkan perhitungan jauh para pendaki berjalan. Puncak Manik Salak berada
di pal HM 50, itu artinya kita perlu berjalan sejauh 4 HM lagi untuk sampai di
puncak manik gunung salak. Dari pertigaan kita ambil jalur ke kanan menuju
puncak, disini jalur banyak terdapat lumpur yang lumayan dalam jika di injak
kaki, sebaiknya kita perlu merambat ke kanan atau ke kiri jalur, untuk
menghindari lumpur tersebut.

foto penampakan pertigaan antara jalur giri jaya dengan jalur taman nasional gunung halimun salak
Dari pertigaan tadi, kira-kira setelah berjalan 20 menit kita sampe juga di puncak manik gunung salak.
Begitu
sampe gw langsung aja buka kaos sangking panasnya badan berjalan menanjak parah
sambil menggendong carrier. Sampe di puncak gw dan gorak membuka botol minum
sprite sebagai salah satu ritual selebrasi kita saat sampai di puncak gunung.
Disini
kita sempatkan buat foto-foto sebentar, dengan gaya masing2.
Ngga
lama kemudian, datang 2 orang pendaki yang baru aja sampe puncak manik lewat
jalur cimelati.
Begitu
sampe kita langsung saja berkenalan dan mengetahui mereka sam2 berasal dari
Jakarta. Mereka adalah alumni lulusan UI Depok. Mereka sama-sama mendaki
berdua, dan terlihat jelas dari peralatan yang mereka gunakan bukan peralatan
murahan.
Gw
lupa siapa nama yang satunya. Yang seorang namanya Roby, kita panggil bang roby
(jelas karena mereka lebih tua dari kita) sambil ngobrol2 tiba2 kabut tebal disertai
hujan datang, yang memaksa kita buat neduh. Berhubung hujannya datang mendadak
kita masuk ke shelter di samping makam mbah gunung salak aja.
Ngga
ada waktu buat mikirin mitos-mitos makam mbah gunung salak di sebelah kita,
yang penting kita ngga keujanan disini.
Sembari
ngobrol, bang roby mengeluarkan kompor dan sedikit dari logistik mereka. Roti2
yang bentuknya ngga asing buat kami dan beberapa selada dikeluarkan, mereka mau
manggang burger !
“
buset dah ... “ ucap gw spontan
Kita
berdua juga dibikinin burger sama bang roby. Mantaaap ! ngga pernah kepikiran
di gunung salak bakalan di masakin burger. Puji Tuhan !
Ngga cuma itu, kita juga dikasih sebungkus rokok. Lumayan buat perbekalan kami.
Di
plang puncak gunung salak 1 kita sempetin buat foto bareng2 berempat, pakai
kamera digital milik mereka. Berhubung waktu sudah jam 2, kita langsung aja
pamit buat turun lagi. Mereka juga berniat langsung turun lewat jalur mereka
naik lagi, cimelati. Setelah pamit kita langsung berpisah lagi menuju jalur
masing2.
Ternyata
kali ini bukanlah hujan rintik dari kabut, namun hujan ‘sungguhan’ mulai turun.
Kami mempercepat perjalanan turun ke bawah, ternyata jalur sudah sedikit
menjelma menjadi air terjun. Wajib ekstra hati2 waktu turun. Kurang dari 2 jam,
kita udah sampe lagi di puncak tugu tempat kami bermalam. Disini gw liat gorak
udah ngga ada, kita terpisah jauh demi mempercepat perjalanan turun. Dari sini
langsung turun lagi ke pondok gusti atau pos pertapaan eyang santri. Hujan turun
semakin deras. Ngga kerasa baju udah basah kuyup. Maklum, kita berdua sama2
lupa bawa jas hujan/raincoat. Perjalanan kurang lebih 2 jam buat sampe di pos
pertapaan ini. Di tempat ini gorak ternyata udah lama nungguin gw turun selama
20 menit. Kita langsung putuskan aja buat turun ke rumah pak RT.
Dari sini
hujan mulai mereda, namun masih gerimis. Setelah 15 menit berjalan kita langung
sampai kembali di rumah pak RT, dan disambut oleh pak Dana.
Disini
kita disuguhi kopi sama bu RT, sambil ngopi2 ngobrol sama pak Dana. Kita
ngobrol2 sambil ditanya bagaimana selama kita diperjalanan.
Setelah
kurang lebih 1 jam mengobrol, kita langsung aja pamitan buat pulang ke bekasi.
Komentar
Posting Komentar