Langsung ke konten utama

Pendakian Gunung Salak Via Giri Jaya (Part 2)



( lanjutan dari part 1 )
Ngga lama kemudian muncul beberapa orang dari jalur punggungan sebelah, tiga orang, yang kemudian kita kenal berasal dari mapala dari Universitas Djuanda.


Mereka bertiga orang-orang asli bogor, dengan logat sunda nya yang kental.


Rupanya mereka sedang mencari lokasi untuk keperluan diklat mapala mereka. Mereka membawa sejumlah tali rafia yang udah digunting pendek kurang lebih 4-5 centimeter untuk dipakai menjadi string line.


Malam itu, mereka menawarkan makan bareng dengan logistik yang mereka bawa. Mungkin karena melihat menu makanan kami yang sedikit ekstrim, mereka kasihan pada kami dan langsung menawarkan diri, ha ha ha ...


Setidaknya, menu sayur mayur menjadi vitamin bagi tubuh kita yang kelelahan. Ditemani lauk seperti tahu dan tempe sudah cukup mengenyangkan bagi kami. Selesai makan kita ngopi2 bareng ditemani tembakau kretek sekedar untuk menghangatkan badan. Mulai dari trek jalur pendakian, cita-cita Soekarno sampai puisi cinta kita bahas tanpa tuntas disini. Sampai obrolan malam berlanjut saat kita merasa ‘ganteng’ buat lanjut tidur.


Bangun pagi di puncak tugu, kita mendapatkan view dengan jelas berupa sunrise dari arah gunung gede-pangrango. Yang gw suka dari puncak tugu ini adalah, gw bisa melihat view dari sini tanpa harus ke puncak manik gunung salak. Ditambah disini terdapat saung untuk para pendaki bisa menginap, ditambah ada tempat kita bisa mengambil air untuk minum juga disini, walaupun hanya pada saat penghujan.


Pagi ini, lagi-lagi kita sarapan menumpang pada dulur mapala dari Djuanda.
 
foto penampakan sunrise di puncak tugu / pertapaan eyang santri


Melihat matahari yang udah mulai tampak tinggi, selesai sarapan kita langsung saja packing kembali untuk melanjutkan perjalanan sampai ke puncak.


Kawan2 dari mapala Djuanda ini meminta tolong kepada kami buat memasangkan string line mereka mulai dari sini menuju puncak manik gunung salak. Ternyata mereka berencana untuk turun kembali dan tidak melanjutkan perjalanan ke puncak manik, mungkin karena kami udah menyita logistik mereka yang seharusnya buat hari esok, akhirnya mereka putuskan untuk turun.


Permintaan memasang string line itu kami terima dengan senang hati. Soalnya kita juga ngga bawa string line buat berjaga-jaga seandainya kita nyasar di hutan. Selesai berpamitan, kita langsung jalan kembali menuju puncak manik. Trek menuju puncak manik ada di belakang bangunan makam eyang santri.


Perjalanan kembali menanjak. Trek di didominasi oleh akar-akar pohon dan sedikit melipir pinggiran jurang hutan. Ngga lupa kita juga memasang string line di sepanjang jalur buat penanda jalan. Semakin menanjak, kita akan menemui batu-batu besar dan licin sebagai pijakan dan pegangan saat mendaki. Perlu hati-hati saat memanjat batu-batu besar ini, karena trek pendakian sangat terjal, bahkan hampir mencapai 80 derajat.


Gorak beberapa kali menyempatkan untuk merekam video selama perjalanan trek menuju puncak. Trek semakin menanjak dengan kombinasi medan tanah licin bercampur dengan bebatuan licin dengan akar-akar pohon sebagai trek alternatif di sebelah trek. Kurang lebih setelah berjalan hampir 3 jam, kita sampai di pertigaan yang menghubungkan jalur dari giri jaya dengan jalur dari Taman Nasional Gunung Halimun Salak. Pertigaan itu berada kurang lebih dekat dengan pal HM 46, yang menunjukkan perhitungan jauh para pendaki berjalan. Puncak Manik Salak berada di pal HM 50, itu artinya kita perlu berjalan sejauh 4 HM lagi untuk sampai di puncak manik gunung salak. Dari pertigaan kita ambil jalur ke kanan menuju puncak, disini jalur banyak terdapat lumpur yang lumayan dalam jika di injak kaki, sebaiknya kita perlu merambat ke kanan atau ke kiri jalur, untuk menghindari lumpur tersebut.


 
foto penampakan pertigaan antara jalur giri jaya dengan jalur taman nasional gunung halimun salak
 
Dari pertigaan tadi, kira-kira setelah berjalan 20 menit kita sampe juga di puncak manik gunung salak.


Begitu sampe gw langsung aja buka kaos sangking panasnya badan berjalan menanjak parah sambil menggendong carrier. Sampe di puncak gw dan gorak membuka botol minum sprite sebagai salah satu ritual selebrasi kita saat sampai di puncak gunung.


Disini kita sempatkan buat foto-foto sebentar, dengan gaya masing2.


Ngga lama kemudian, datang 2 orang pendaki yang baru aja sampe puncak manik lewat jalur cimelati.


Begitu sampe kita langsung saja berkenalan dan mengetahui mereka sam2 berasal dari Jakarta. Mereka adalah alumni lulusan UI Depok. Mereka sama-sama mendaki berdua, dan terlihat jelas dari peralatan yang mereka gunakan bukan peralatan murahan.


Gw lupa siapa nama yang satunya. Yang seorang namanya Roby, kita panggil bang roby (jelas karena mereka lebih tua dari kita) sambil ngobrol2 tiba2 kabut tebal disertai hujan datang, yang memaksa kita buat neduh. Berhubung hujannya datang mendadak kita masuk ke shelter di samping makam mbah gunung salak aja.


Ngga ada waktu buat mikirin mitos-mitos makam mbah gunung salak di sebelah kita, yang penting kita ngga keujanan disini.


Sembari ngobrol, bang roby mengeluarkan kompor dan sedikit dari logistik mereka. Roti2 yang bentuknya ngga asing buat kami dan beberapa selada dikeluarkan, mereka mau manggang burger !


“ buset dah ... “ ucap gw spontan


Kita berdua juga dibikinin burger sama bang roby. Mantaaap ! ngga pernah kepikiran di gunung salak bakalan di masakin burger. Puji Tuhan !


Ngga cuma itu, kita juga dikasih sebungkus rokok. Lumayan buat perbekalan kami.


Di plang puncak gunung salak 1 kita sempetin buat foto bareng2 berempat, pakai kamera digital milik mereka. Berhubung waktu sudah jam 2, kita langsung aja pamit buat turun lagi. Mereka juga berniat langsung turun lewat jalur mereka naik lagi, cimelati. Setelah pamit kita langsung berpisah lagi menuju jalur masing2.
 

 
kita sempetin dulu foto berempat !
 
Ternyata kali ini bukanlah hujan rintik dari kabut, namun hujan ‘sungguhan’ mulai turun. Kami mempercepat perjalanan turun ke bawah, ternyata jalur sudah sedikit menjelma menjadi air terjun. Wajib ekstra hati2 waktu turun. Kurang dari 2 jam, kita udah sampe lagi di puncak tugu tempat kami bermalam. Disini gw liat gorak udah ngga ada, kita terpisah jauh demi mempercepat perjalanan turun. Dari sini langsung turun lagi ke pondok gusti atau pos pertapaan eyang santri. Hujan turun semakin deras. Ngga kerasa baju udah basah kuyup. Maklum, kita berdua sama2 lupa bawa jas hujan/raincoat. Perjalanan kurang lebih 2 jam buat sampe di pos pertapaan ini. Di tempat ini gorak ternyata udah lama nungguin gw turun selama 20 menit. Kita langsung putuskan aja buat turun ke rumah pak RT.


Dari sini hujan mulai mereda, namun masih gerimis. Setelah 15 menit berjalan kita langung sampai kembali di rumah pak RT, dan disambut oleh pak Dana.


Disini kita disuguhi kopi sama bu RT, sambil ngopi2 ngobrol sama pak Dana. Kita ngobrol2 sambil ditanya bagaimana selama kita diperjalanan.


Setelah kurang lebih 1 jam mengobrol, kita langsung aja pamitan buat pulang ke bekasi.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Pendakian Gunung Salak Via Giri Jaya (Part 1)

  foto dilansir dari situs korankite.com Siapa sih pendaki gunung yang ngga kenal gunung salak ? gunung dengan ketinggian 2211 meter diatas permukaan laut, tipe strato vulkanik, tipe hutan hujan tropis, ada kawah ratu yang masih aktif mengeluarkan gas belerang, plus segudang cerita mistis tentang gunung salak. 24 Januari, 2015 gw bersama partner pendakian tergokil, master gipson a.k.a gorak dari pecinta alam PALAPA FMIPA Universitas Negeri Jember. 22 januari, gw lagi mengantarkan dia buat menyebarkan undangan latihan gabungan konservasi se-jawa bali di taman nasional baluran, jawa timur ke organisasi-organisasi pecinta alam di sekitar jakarta. Sepulang dari mengantar undangan ke mapala Atmajaya, Wanacala, tanggal 23, sebagai balas budi (walaupun separuhnya emang keinginan pribadi) karena udah nganterin gw naik gunung Raung, gw mengajak dia naik ke gunung salak besok harinya. Berhubung selama ini gw pergi ke salak cuma kenal jalur giri jaya, maka pendakian kali ini jug...

Pendakian Gunung Kembar (Part 3)

Sekarang kita udah tersesat arah tujuan. Ngga tau lagi mau kemana. Buat sekedar mencari ketenangan aja, kita foto-foto lagi. Kebetulan ada pemandangan langka, samudera awan. Asli ini tjakeeep banget ! Kita foto-foto dulu, baru tiba-tiba kita nemu ide. Kita ke welirang. Dari puncak gunung kembar 2 terlihat gunung kembar 1 dan gunung welirang menyambung. Atau setidaknya begitulah yang terlihat dari sini. Kita turun lagi, menuju lembah antara gunung kembar 1 dan 2. Ternyata turun nya lumayan serem. Karena ngga ada yang bisa dijadikan pegangan, pohon-pohon renggang plus pijakan yang berupa tanah berpasir kerikil bikin kita wajib waspada berjalan. Sampai dibawah kita langsung cuss lanjut lagi mendaki puncak gunung kembar 1. Ternyata buat trek yang satu ini 3x lebih curam. Rasanya jadi seperti mendaki gunung-gunung di jawa barat, dengkul ketemu dagu. Banyak juga ranting-ranting lumayan besar jatuh di jalur, menghalangi pandangan. Dari punggungan gw terpisah jauuh ban...