Langsung ke konten utama

Pendaki, Pecinta, atau Pemerkosa ?


" Nanjak lah "

" Ayolah naek lagi "

" kangen samudera diatas awan "

Mungkin kalimat itu sudah sering kawan-kawan lihat dimana-mana, di instagram, facebook, twitter, dsb. barangkali ada yang ikut kepo tentang kalimat ajakan itu, atau memilih masa bodo karena sudah menebak apa artinya.

            Yap, kalimat itu "kode" yang biasa digunakan para netizen yang ingin pergi mendaki gunung. kemanapun perginya, kodenya hampir mirip.

            Bagi para pendaki “veteran” kalimat-kalimat diatas mungkin terdengar agak aneh karena terkesan menggampangkan olahraga yang termasuk dalam golongan ekstrim ini. Menanggapi kalimat ajakan diatas, para pendaki “veteran” sering mengomentari para pendaki pemula atau amatir dengan segala ceramah & nasihat-nasihat mereka. Adapula yang ikut memperkeruh suasana dengan menyombongkan diri dihadapan orang-orang bahkan tak sedikit yang meremehkan orang lain. Tujuan mereka memang baik, namun pesan mereka tidak tersampaikan dengan baik.

            Ada lagi yang lebih sadis, benar, sadis ! memang hobi nya mendaki gunung, namun banyak melanggar etika umum, maupun etika selama pendakian. Merusak hutan, buang air di jalur pendakian, vandalisme, berburu satwa yang dilindungi negara, buang sampah sembarangan, dan berbagai dosa berat lainnya. Pendaki tipe seperti ini memang banyak ditemui akhir-akhir ini. Berlaku sebagai orang benar, memaksakan maunya. Tidak berlebihan jika mereka disebut para pemerkosa. Karena alam dipaksa melayani nafsu nya untuk bisa pamer foto bagus di atas gunung. Tidak heran banyak dari golongan pemerkosa ini dikutuk orang-orang dari berbagai strata. Plus karma dari Tuhan sebagai bonusnya.

            Lain lagi bagi para pecinta alam. Baik itu pecinta alam tipe organisasi sekelas siswa maupun mahasiswa, atau independen. Bagi organisasi atau orang-orang yang benar-benar berpondasi paham cinta alam, mereka akan cenderung menghindari perdebatan yang bikin lidah kram. Lebih memilih diam daripada ikutan menghakimi. Mengedukasi adalah pilihan yang lebih banyak diambil, atau begitulah seharusnya.

            Karena ilmu tidak akan habis jika dibagikan, justru akan lebih banyak menyelamatkan banyak nyawa orang-orang. Akhir-akhir ini banyak pendaki pemula yang harus berakhir tewas di gunung daripada meninggal dengan tenang dihari tuanya. Masalah itu berawal dari perencanaan yang disepelekan, perlengkapan tidak aman, dan takabur. Dengan belajar ilmu-ilmu yang sangat dibutuhkan selama pendakian, resiko kecelakaan dapat diminimalisir. Silahkan pelajari dari berbagai sumber, atau sharing dengan organisasi pecinta alam manapun yang dapat dihubungi.

Sekarang, golongan siapakah kamu ?

Belajar ilmu-ilmu tersebut dapat ditanyakan langsung pada orang yang menguasainya, jangan sepelekan pengetahuan dasar ini ! =)

" Karena alam dipaksa melayani nafsu nya untuk bisa pamer foto bagus diatas gunung "

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Pendakian Gunung Salak Via Giri Jaya (Part 1)

  foto dilansir dari situs korankite.com Siapa sih pendaki gunung yang ngga kenal gunung salak ? gunung dengan ketinggian 2211 meter diatas permukaan laut, tipe strato vulkanik, tipe hutan hujan tropis, ada kawah ratu yang masih aktif mengeluarkan gas belerang, plus segudang cerita mistis tentang gunung salak. 24 Januari, 2015 gw bersama partner pendakian tergokil, master gipson a.k.a gorak dari pecinta alam PALAPA FMIPA Universitas Negeri Jember. 22 januari, gw lagi mengantarkan dia buat menyebarkan undangan latihan gabungan konservasi se-jawa bali di taman nasional baluran, jawa timur ke organisasi-organisasi pecinta alam di sekitar jakarta. Sepulang dari mengantar undangan ke mapala Atmajaya, Wanacala, tanggal 23, sebagai balas budi (walaupun separuhnya emang keinginan pribadi) karena udah nganterin gw naik gunung Raung, gw mengajak dia naik ke gunung salak besok harinya. Berhubung selama ini gw pergi ke salak cuma kenal jalur giri jaya, maka pendakian kali ini jug...

Pendakian Gunung Kembar (Part 3)

Sekarang kita udah tersesat arah tujuan. Ngga tau lagi mau kemana. Buat sekedar mencari ketenangan aja, kita foto-foto lagi. Kebetulan ada pemandangan langka, samudera awan. Asli ini tjakeeep banget ! Kita foto-foto dulu, baru tiba-tiba kita nemu ide. Kita ke welirang. Dari puncak gunung kembar 2 terlihat gunung kembar 1 dan gunung welirang menyambung. Atau setidaknya begitulah yang terlihat dari sini. Kita turun lagi, menuju lembah antara gunung kembar 1 dan 2. Ternyata turun nya lumayan serem. Karena ngga ada yang bisa dijadikan pegangan, pohon-pohon renggang plus pijakan yang berupa tanah berpasir kerikil bikin kita wajib waspada berjalan. Sampai dibawah kita langsung cuss lanjut lagi mendaki puncak gunung kembar 1. Ternyata buat trek yang satu ini 3x lebih curam. Rasanya jadi seperti mendaki gunung-gunung di jawa barat, dengkul ketemu dagu. Banyak juga ranting-ranting lumayan besar jatuh di jalur, menghalangi pandangan. Dari punggungan gw terpisah jauuh ban...

Pendakian Gunung Salak Via Giri Jaya (Part 2)

( lanjutan dari part 1 ) Ngga lama kemudian muncul beberapa orang dari jalur punggungan sebelah, tiga orang, yang kemudian kita kenal berasal dari mapala dari Universitas Djuanda. Mereka bertiga orang-orang asli bogor, dengan logat sunda nya yang kental. Rupanya mereka sedang mencari lokasi untuk keperluan diklat mapala mereka. Mereka membawa sejumlah tali rafia yang udah digunting pendek kurang lebih 4-5 centimeter untuk dipakai menjadi string line. Malam itu, mereka menawarkan makan bareng dengan logistik yang mereka bawa. Mungkin karena melihat menu makanan kami yang sedikit ekstrim, mereka kasihan pada kami dan langsung menawarkan diri, ha ha ha ... Setidaknya, menu sayur mayur menjadi vitamin bagi tubuh kita yang kelelahan. Ditemani lauk seperti tahu dan tempe sudah cukup mengenyangkan bagi kami. Selesai makan kita ngopi2 bareng ditemani tembakau kretek sekedar untuk menghangatkan badan. Mulai dari trek jalur pendakian, cita-cita Soekarno sampa...